Efek Penghangat Kombinasi Forced Air Warmer dan Survival Thermal Blanket Terhadap Suhu Tubuh dan Kejadian Hipotermia Intraoperasi pada Pasien Geriatri

  • Eddy Harijanto Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia – RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia
  • Susilo Chandra Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia – RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia
  • M. Taufik Anwar Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif, Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia
  • Vincent Christianto Indonesia Medical Education and Research Institute (IMERI), Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia
Keywords: Hipotermia, forced air warmer, menggigil, survival thermal blanket, underbody conduction mat

Abstract

Pendahuluan: Hipotermia intraoperatif memengaruhi luaran pembedahan pasien geriatri. Meskipun forced air warmer saat ini telah umum digunakan, tetapi efek kombinasinya dengan survival thermal blanket dalam mempertahankan suhu tubuh belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan membandingkan efek kombinasi survival thermal blanket dan forced air warmer dengan underbody conduction mat yang menggunakan penutup kain dalam mencegah hipotermia.

Metode: Uji acak tersamar tunggal dua lengan pararel dilaksanakan di RSCM (April–Mei 2022) pada pasien geriatri (≥60 tahun, ASA I–III) yang menjalani anestesi umum. Subjek secara acak dialokasikan ke dalam kelompok forced air warmer Bair Hugger 505® dengan selimut mylar, dan kelompok underbody conduction mat Blanket Roll® dengan satu lapis kain draping. Suhu membran timpani diukur saat masuk ruang penerimaan. Suhu nasofaring, kejadian hipotermia intraoperasi, dan menggigil pascaoperasi intraoperatif dicatat dan dianalisis. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS 23 dengan signifikansi p<0,05.

Hasil: Suhu nasofaring intraoperatif secara signifikan lebih tinggi pada kelompok pasien dengan survival thermal blanket pada forced air warmer mulai menit ke-60, ke-120, dan periode pascaoperasi (p=0,008, p=0,034, p=0,011). Angka hipotermia intraoperatif dan kejadian menggigil yang lebih rendah pada kelompok yang mendapatkan survival thermal blanket pada forced air warmer dibandingkan kain draping pada underbody conduction mat, namun perbedaan ini belum bermakna secara statistik (28,6% vs 53,6%, p > 0,05).

Simpulan: Survival thermal blanket pada forced air warmer mampu menghangatkan suhu tubuh lebih baik dibandingkan kain draping pada underbody conduction mat. Namun kejadian hipotermia intraoperatif dan kejadian menggigil pada kedua kelompok tidak berbeda signifikan.

Published
2026-02-27
Section
Articles