Majalah Anestesia & Critical Care
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal
<p>MACC is an official journal of The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (PERDATIN). This journal is an open-access medical journal double-blind peer-reviewed published quarterly (February, June, and October). This journal considers articles on all aspects of anesthesiology, critical care, perioperative care, and pain management. MACC encourages authors from any country in the world to submit manuscript on anesthesia and related subjects. We accept original articles, review articles, case reports, evidence-based case reports (EBCR), and letters to the editor/editorial.</p>Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)en-USMajalah Anestesia & Critical Care2502-7999Winter is Coming: Pencegahan Hipotermia pada Pasien Geriatri
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/496
<p>Hipotermia intraoperatif, yang didefinisikan sebagai suhu inti tubuh <36°C, merupakan komplikasi yang sering terjadi selama anestesi dengan insidensi yang dapat mencapai 90%. Kondisi ini menjadi perhatian khusus pada pasien geriatri karena adanya perubahan fisiologis terkait penuaan, seperti gangguan sistem termoregulasi, penurunan lemak subkutan, sarkopenia, serta respons vasokonstriksi dan menggigil yang melemah. Kombinasi faktor intrinsik tersebut dengan paparan lingkungan kamar operasi yang relatif dingin, durasi pembedahan yang panjang, penggunaan cairan tidak dihangatkan, serta komorbiditas tertentu meningkatkan risiko terjadinya hipotermia. Hipotermia pada populasi lansia berhubungan dengan berbagai konsekuensi klinis, antara lain peningkatan risiko infeksi luka operasi, gangguan koagulasi, kehilangan darah lebih besar, pemanjangan efek obat anestesi, keterlambatan pemulihan, hingga peningkatan kejadian delirium pascaoperasi. Pada kasus trauma, hipotermia juga berkontribusi terhadap triad mematikan bersama asidosis dan koagulopati. Upaya pencegahan perlu dimulai sejak fase praoperatif melalui identifikasi pasien berisiko tinggi dan penerapan prewarming selama 30–60 menit untuk mengurangi redistribusi panas setelah induksi anestesi. Pemantauan suhu inti secara adekuat selama intraoperasi serta penggunaan metode penghangatan aktif seperti forced air warming, cairan infus hangat, dan pembatasan paparan tubuh terhadap suhu rendah merupakan strategi utama yang direkomendasikan. Diperlukan peningkatan perhatian, penelitian nasional, serta dukungan kebijakan untuk memperkuat praktik pencegahan hipotermia, khususnya pada pasien geriatri, guna menurunkan morbiditas yang sebenarnya dapat dicegah.</p>Bintang Pramodana
Copyright (c) 2026 Bintang Pramodana
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-272026-02-274411310.55497/majanestcricar.v44i1.496Efek Penghangat Kombinasi Forced Air Warmer dan Survival Thermal Blanket Terhadap Suhu Tubuh dan Kejadian Hipotermia Intraoperasi pada Pasien Geriatri
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/487
<p><strong>Pendahuluan:</strong> Hipotermia intraoperatif memengaruhi luaran pembedahan pasien geriatri. Meskipun <em>forced air warmer</em> saat ini telah umum digunakan, tetapi efek kombinasinya dengan <em>survival thermal blanket</em> dalam mempertahankan suhu tubuh belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan membandingkan efek kombinasi <em>survival thermal blanket</em> dan<em> forced air warmer</em> dengan <em>underbody conduction mat</em> yang menggunakan penutup kain dalam mencegah hipotermia.</p> <p><strong>Metode:</strong> Uji acak tersamar tunggal dua lengan pararel dilaksanakan di RSCM (April–Mei 2022) pada pasien geriatri (≥60 tahun, ASA I–III) yang menjalani anestesi umum. Subjek secara acak dialokasikan ke dalam kelompok <em>forced air warmer</em> Bair Hugger 505® dengan selimut mylar, dan kelompok <em>underbody conduction mat</em> Blanket Roll® dengan satu lapis kain draping. Suhu membran timpani diukur saat masuk ruang penerimaan. Suhu nasofaring, kejadian hipotermia intraoperasi, dan menggigil pascaoperasi intraoperatif dicatat dan dianalisis. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS 23 dengan signifikansi p<0,05.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Suhu nasofaring intraoperatif secara signifikan lebih tinggi pada kelompok pasien dengan <em>survival thermal blanket</em> pada <em>forced air warmer</em> mulai menit ke-60, ke-120, dan periode pascaoperasi (p=0,008, p=0,034, p=0,011). Angka hipotermia intraoperatif dan kejadian menggigil yang lebih rendah pada kelompok yang mendapatkan <em>survival thermal blanket</em> pada <em>forced air warmer</em> dibandingkan kain draping pada <em>underbody conduction mat</em>, namun perbedaan ini belum bermakna secara statistik (28,6% vs 53,6%, p > 0,05).</p> <p><strong>Simpulan:</strong> <em>Survival thermal blanket</em> pada <em>forced air warmer</em> mampu menghangatkan suhu tubuh lebih baik dibandingkan kain draping pada <em>underbody conduction mat</em>. Namun kejadian hipotermia intraoperatif dan kejadian menggigil pada kedua kelompok tidak berbeda signifikan.</p>Eddy HarijantoSusilo ChandraM. Taufik AnwarVincent Christianto
Copyright (c) 2026 Eddy Harijanto, Susilo Chandra, M. Taufik Anwar, Vincent Christianto
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-272026-02-2744141510.55497/majanestcricar.v44i1.487Metode Audiovisual Dibandingkan Penjelasan Verbal sebagai Media Edukasi untuk Menurunkan Tingkat Kecemasan Pasien yang akan Menjalani Anestesi Spinal
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/486
<p><strong>Pendahuluan:</strong> Kecemasan prabedah timbul dari aspek pembedahan maupun aspek anestesi. Pencegahan kecemasan prabedah dengan pendekatan non-farmakologis misalnya edukasi, dapat mengurangi efek samping dari penggunaan obat-obatan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode audiovisual dan penjelasan secara verbal sebagai media edukasi untuk menurunkan kecemasan pasien yang akan menjalani operasi dengan anestesi spinal.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar tunggal yang mengikutsertakan 74 pasien dewasa di Poli Perioperatif RSCM. Sampel dibagi ke dalam dua kelompok dengan metode acak, sebanyak 37 sampel di tiap kelompok audiovisual dan kelompok verbal. Penilaian kecemasan dilakukan sebelum dan sesudah edukasi menggunakan kuesioner <em>Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale</em> (APAIS).</p> <p><strong>Hasil:</strong> Tingkat kecemasan seluruh pasien sebelum edukasi 11 (4–20). Tingkat kecemasan pascaedukasi di kelompok verbal adalah 8 (4–18), di kelompok audiovisual 8 (4–18). Perubahan tingkat kecemasan pascaedukasi berbeda bermakna pada kelompok audiovisual dibandingkan kelompok verbal, (2 (-3– 14) vs 1 (-3 – 8); p=0,046).</p> <p><strong>Simpulan:</strong> Metode audiovisual dengan video edukasi sebagai media edukasi lebih baik dalam menurunkan tingkat kecemasan pasien yang akan menjalani anestesi spinal dibandingkan penjelasan verbal.</p>Anggara Gilang Dwiputra Alfan Mahdi NugrohoDhanasari Vidiawati SanyotoGunawan Sukoco
Copyright (c) 2026 Anggara Gilang Dwiputra, Alfan Mahdi Nugroho, Dhanasari Vidiawati Sanyoto, Gunawan Sukoco
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-272026-02-27441162610.55497/majanestcricar.v44i1.486Faktor Prediktor Nyeri Pascabedah Sedang dan Berat di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/494
<p><strong>Pendahuluan:</strong> Prevalensi nyeri pascabedah di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo tahun 2017 menunjukkan intensitas nyeri sedang (57,4%) dan nyeri berat (20,4%). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor prediktor nyeri pascabedah sedang dan berat, menganalisis hubungan, dan mengembangkan model prediksi nyeri pascabedah sedang dan berat.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan desain kohort prospektif pada 135 pasien yang menjalani pembedahan di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo yang memenuhi kriteria inklusi. Setiap faktor prediktor dianalisis menggunakan analisis bivariat dan dilanjutkan dengan analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Sistem skor prediksi dirangkum dari hasil analisis multivariat.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Risiko kejadian (RR) untuk setiap faktor prediktor yang diidentifikasi berdasarkan analisis bivariat yaitu tingkat kecemasan prabedah (RR: 3,32, 95% CI: 1,28 – 8,56), durasi pembedahan lebih dari 90 menit (RR: 7,23, 95% CI: 1,85 – 28,29), jenis pembedahan mayor (RR: 2,69, 95% CI: 1,58 – 4,57), konsumsi opioid intraoperatif (RR: 2,67, 95% CI: 1,68 – 4,25), dan jenis anestesi (RR: 2,37, 95% CI: 1,06 – 5,33). Analisis multivariat menunjukkan bahwa prediktor signifikan untuk nyeri pascabedah sedang hingga berat adalah tingkat kecemasan prabedah (p = 0,085, RR: 2,23, 95% CI: 0,87 – 5,54), durasi pembedahan (p = 0,056, RR: 3,92, 95% CI: 0,96 – 15,96), jenis pembedahan mayor (p = 0,061, RR: 1,63, 95% CI: 0,97 – 2,72), dan konsumsi opioid intraoperatif (p = 0,011, RR: 1,78, 95% CI: 1,14 – 2,78).</p> <p><strong>Simpulan:</strong> Faktor prediktor nyeri pascabedah pada penelitian ini adalah tingkat kecemasan prabedah, jenis pembedahan, durasi pembedahan, dan konsumsi opioid intraoperatif. Persamaan regresi disusun berdasarkan empat faktor prediktor tersebut.</p>Alfan Mahdi NugrohoAino Nindya AuerkariRizky Loviana Roza
Copyright (c) 2026 Alfan Mahdi Nugroho, Aino Nindya Auerkari, Rizky Loviana Roza
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-272026-02-27441273510.55497/majanestcricar.v44i1.494Faktor yang Berhubungan dengan Lama Rawat Pascaoperasi Bedah Saraf di UPI RSUP H. Adam Malik Tahun 2024
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/483
<p><strong>Pendahuluan:</strong> Lama rawat di Unit Perawatan Intensif (UPI) merupakan indikator penting mutu pelayanan dan efisiensi penggunaan sumber daya, terutama pada pasien pascaoperasi bedah saraf yang sering memerlukan pemantauan intensif. Namun, data lokal mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan lama rawat UPI di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor klinis yang berhubungan dengan lama rawat UPI pada pasien pascaoperasi bedah saraf di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2024. </p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian ini merupakan studi observasional deskriptif-analitik dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder rekam medis. Sampel diambil secara total sampling terhadap pasien pascaoperasi bedah saraf yang dirawat di UPI periode Januari–Desember 2024. Variabel yang dianalisis meliputi skor <em>Glasgow Coma Scale</em> (GCS), status fisik preoperatif (PS-ASA), durasi penggunaan ventilator mekanik, komplikasi pascaoperasi, prioritas operasi, dan jenis tindakan pembedahan. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan uji korelasi sesuai distribusi data.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Sebanyak 43 pasien memenuhi kriteria inklusi. Mayoritas pasien memiliki PS-ASA IV, memerlukan ventilasi mekanik ≥96 jam, dan menjalani pembedahan non-elektif. Analisis menunjukkan bahwa jenis tindakan pembedahan berhubungan signifikan dengan lama rawat UPI (p = 0,018). Skor PS-ASA menunjukkan kecenderungan hubungan pada analisis tren dan korelasi, namun tidak signifikan pada uji kategorik. Skor GCS, durasi ventilator, komplikasi pascaoperasi, dan prioritas operasi tidak menunjukkan hubungan bermakna secara statistik. </p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Jenis tindakan pembedahan merupakan faktor yang berhubungan dengan lama rawat UPI pada pasien pascaoperasi bedah saraf di rumah sakit rujukan tersier. Penelitian lebih lanjut dengan desain prospektif dan analisis multivariat diperlukan untuk mengidentifikasi prediktor independen secara lebih komprehensif.</p>Muhammad Fatih UlhaqRr. Sinta IrinaMuhammad Arfiza Putra Saragih
Copyright (c) 2026 Muhammad Fatih Ulhaq, Rr. Sinta Irina, Muhammad Arfiza Putra Saragih
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-272026-02-27441364410.55497/majanestcricar.v44i1.483Pengelolaan Anestesi pada Pasien Aneurisma Serebri Pecah dengan Kehamilan Trimester 2
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/469
<p><strong>Pendahuluan:</strong> Perdarahan subaraknoid aneurismal (aSAH) pada kehamilan merupakan kondisi langka namun berisiko tinggi bagi ibu dan janin. Penatalaksanaannya memerlukan keseimbangan antara urgensi neurologis, keselamatan maternal–fetal, serta pertimbangan anestesi dan paparan radiasi. Laporan kasus ini bertujuan menggambarkan tatalaksana anestesi dan endovaskular pada aSAH trimester kedua kehamilan.</p> <p><strong>Deskripsi Kasus:</strong> Perempuan 42 tahun, G3P2, usia kehamilan 17–18 minggu, datang dengan nyeri kepala hebat. CT non-kontras menunjukkan aSAH difus dengan IVH (<em>Modified Fisher 4; H&H 2; WFNS 1</em>). Dilakukan <em>endovascular coiling</em> di bawah anestesi umum dengan target stabilitas hemodinamik dan normokapnia; regimen meliputi fentanyl–propofol–rocuronium dan rumatan sevofluran ±0,8 MAC, disertai abdominal shielding. DSA mengonfirmasi aneurisma sakular pada ostium A1 dan koiling mencapai oklusi memadai. Pasca tindakan stabil, pasien dipulangkan pada hari pertama dengan nimodipin oral 60 mg tiap 4 jam (program 21 hari). Kehamilan berlanjut sampai aterm, seksio sesarea elektif pada 37–38 minggu dengan status neurologis ibu baik.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Strategi anestesi menekankan perlindungan perfusi serebral dan uteroplasental, manajemen jalan napas spesifik kehamilan, serta mitigasi radiasi selama terapi endovaskular. Pada pasien hamil dengan aSAH, <em>endovascular coiling</em> dengan proteksi radiasi, kontrol hemodinamik ketat, dan tata laksana multidisiplin memberikan luaran maternal fetal yang baik, pemulangan dini dapat dipertimbangkan berdasarkan penilaian risiko individual.</p>Kakung Muhammad YusufDhania SantosaZakariaRemo Armyda
Copyright (c) 2026 Kakung Muhammad Yusuf, Dhania Anindita Santosa, Zakaria, Muhammad Remo Lingga Riesta Armyda
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-272026-02-27441455510.55497/majanestcricar.v44i1.469Delayed Cerebral Ischemia Setelah Clipping Aneurisma: Sebuah Studi Kasus
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/466
<p><strong>Pendahuluan:</strong> Aneurisma intrakranial yang mengalami ruptur dan menyebabkan perdarahan subaraknoid (PSA) merupakan keadaan gawat darurat neurologis dengan tingkat mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Komplikasi tersering dan paling serius pada fase subakut adalah <em>delayed cerebral ischemia</em> (DCI), yang terjadi pada sekitar 20–30% pasien dan dapat menyebabkan defisit neurologis menetap. Laporan ini bertujuan menjelaskan secara komprehensif aspek fisiopatologi, klasifikasi klinis, serta strategi manajemen anestesi perioperatif pada pasien dengan aneurisma intrakranial, terutama dalam konteks pencegahan dan tata laksana DCI pasca tindakan <em>clipping</em>.</p> <p><strong>Deskripsi Kasus:</strong> Perempuan 68 tahun dengan riwayat penurunan kesadaran sejak enam hari sebelumnya, didahului nyeri kepala hebat dan muntah tiga kali. <em>CT scan</em> menunjukkan adanya perdarahan subaraknoid, pasien dirujuk untuk penanganan bedah saraf. <em>External Ventricular Drain </em>(EVD) Kocher (S) dipasang pada 15 Juli 2025. Hasil evaluasi pascaoperasi menunjukkan terdapat ICH <em>burst lobe di cortical subcortical regio</em> temporalis kanan yang sebagian, edema otak, dan terpasangnya <em>clipping</em> ICA kanan serta VP shunt di ventrikel lateralis kiri. Pasien dirawat di neurologi <em>intensive care</em> unit, pada hari ke lima terjadi penurunan kesadaran GCS 14 (E3V5M6) menjadi GCS 7 (E2V2M3) dan di lakukan evaluasi <em>CT Scan</em> dan lab. Keluarga menolak dilakukan intubasi dan tindakan invasif. Pasien dirawat selama 9 hari di Neuro ICU dan dinyatakan meninggal pada 6 Agustus 2025.</p> <p><strong>Simpulan:</strong> Pencegahan dan deteksi dini DCI memerlukan kolaborasi multidisiplin, termasuk peran aktif dokter anestesi pada seluruh tahapan manajemen aneurisma intrakranial. Pendekatan perioperatif yang komprehensif dan berbasis bukti berpotensi menurunkan komplikasi serta meningkatkan luaran fungsional dan kualitas hidup pasien.</p>ZakariaBambang HarijonoDhania SantosaKakung YusufRemo Armyda
Copyright (c) 2026 Zakaria, Bambang Harijono, Dhania Santosa, Kakung Yusuf, Muhammad Remo Lingga Riesta Armyda
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-272026-02-27441566710.55497/majanestcricar.v44i1.466Manajemen Anestesi pada Pasien Glioblastoma Multiforme Recurrent yang Menjalani Sitoreduksi Tumor dengan Menggunakan Teknik Bebas Opioid: Laporan Kasus
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/476
<p><strong>Pendahuluan:</strong> Glioblastoma Multiforme (GBM) adalah jenis glioma yang sangat agresif dan memiliki prognosis yang buruk. Dalam beberapa tahun terakhir, didapati dampak anestesi dan analgesik terhadap progresivitas kanker. Paparan jangka pendek terhadap agen anestesi, yaitu anestesi inhalasi, dapat mempercepat pertumbuhan tumor. Selain itu, pasien yang terpapar dengan opioid pada kuantitas besar dalam beberapa hari setelah operasi akan mengalami progresivitas kanker lebih cepat daripada mereka yang mengonsumsi obat analgesik dalam jumlah terbatas dan dalam jangka waktu lebih pendek.</p> <p><strong>Deskripsi Kasus:</strong> Pasien berusia 17 tahun dengan keluhan benjolan pada kepala sisi kanan yang progresif membesar dan tidak nyeri sejak satu bulan sebelum masuk rumah sakit. Kelemahan separuh tubuh kiri dan ptosis pada mata kanan sejak bulan Mei 2024. Pada bulan Juni 2024 telah dilakukan operasi reseksi tumor dan kraniektomi dekompresi dengan pembiusan umum diikuti dengan operasi sitoreduksi tumor pada bulan September 2024. Hasil CT kepala tanpa kontras didapatkan massa padat heterogen intra-aksial supratentorial pada thalamus kanan yang meluas ke lobus temporal kanan menyebabkan pergeseran struktur midline ke kiri sejauh 0,9 cm yang mengesankan massa residual dengan diagnosis banding massa residif. Tindakan anestesi dilakukan dengan pembiusan umum dengan teknik anestesi bebas opioid (<em>opioid free</em>) dan dikombinasikan dengan regional anestesi menggunakan <em>scalp block.</em></p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Teknik anestesi bebas opioid dapat digunakan sebagai modalitas dalam operasi GBM.</p>Christina Angelia Maharani Dewi AdhiwirawanI Putu Pramana SuarjayaIda Bagus Krisna Jaya SutawanI Gusti Agung G Utara HartawanChristopher Ryalino
Copyright (c) 2026 Christina Angelia Maharani Dewi Adhiwirawan, I Putu Pramana Suarjaya, Ida Bagus Krisna Jaya Sutawan, I Gusti Agung G Utara Hartawan, Christopher Ryalino
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-272026-02-27441687510.55497/majanestcricar.v44i1.476Hemodynamic Stability with Intrathecal Prilocaine 2% in Caesarean Section Patient with Ebstein’s Anomaly: A Case Report
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/479
<p style="font-weight: 400;"><strong>Introduction:</strong> Ebstein’s anomaly is a rare congenital malformation of the tricuspid valve that predisposes pregnant patients to significant hemodynamic instability due to increased circulating volume, cardiac output, and catecholamine levels during pregnancy. Anesthetic management in this population requires careful maintenance of preload, afterload, and sinus rhythm to avoid worsening right-to-left shunting and arrhythmias.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Case Description:</strong> A 31-year-old gravida 2 para 1 woman (G2P1001) at 37 weeks of gestation with Ebstein’s anomaly type C and severe tricuspid regurgitation who underwent cesarean section due to fetal distress. Spinal anesthesia was performed using hyperbaric prilocaine 2% (80 mg), followed by bilateral ultrasound-guided transversus abdominis plane block for postoperative analgesia. Throughout the 45-minute procedure, the patient maintained stable hemodynamics without episodes of hypotension or arrhythmias. Postoperative recovery in the Obstetric High Dependency Unit remained uneventful, with consistent vital signs and adequate pain control. A healthy neonate was delivered.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Conclusion: </strong>This case demonstrates that intrathecal prilocaine 2% can provide effective surgical anesthesia while preserving hemodynamic stability in selected parturients with Ebstein’s anomaly. The pharmacological characteristics of prilocaine, rapid onset, intermediate duration, and a favorable sympathetic profile, make it a potential alternative to longer-acting agents in patients at risk of hemodynamic compromise. Further studies are needed to validate its safety and efficacy in parturients with congenital cardiac disease.</p>Rifqi Taufiq RasyidPutu Herdit SudiantaraTjahya Ariyasa EMTjokorda Gde Agung Senapathi
Copyright (c) 2026 Rifqi Taufiq Rasyid, Putu Herdita Sudiantara, Tjahya Ariyasa EM, Tjokorda Gde Agung Senapathi
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-272026-02-27441768210.55497/majanestcricar.v44i1.479Manajemen Perioperatif pada Pasien Hamil
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/453
<p><strong>Pendahuluan:</strong> Kehamilan membawa perubahan fisiologis signifikan pada sistem kardiovaskular, respirasi, hematologi, gastrointestinal, renal, dan endokrin yang memengaruhi manajemen anestesi serta keamanan ibu dan janin.</p> <p><strong>Metode:</strong> Tinjauan literatur ini bertujuan merangkum praktik terbaik manajemen perioperatif pada pasien hamil yang menjalani pembedahan. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed Central dan Google Scholar untuk publikasi tahun 2020–2025.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Hasil menunjukkan bahwa evaluasi praoperatif perlu menekankan risiko aspirasi, tromboemboli, dan kesulitan jalan napas, serta pemilihan waktu pembedahan yang optimal. Manajemen intraoperatif difokuskan pada posisi lateral untuk mencegah kompresi aortokaval, pemantauan hemodinamik ketat, serta titrasi obat anestesi yang lebih rendah sesuai perubahan kebutuhan selama kehamilan. Neuraksial anestesi direkomendasikan sebagai pilihan utama pada seksio sesarea karena keamanan dan efektivitasnya, sementara anestesi umum memiliki risiko lebih tinggi terhadap morbiditas maternal dan neonatal. Manajemen pascaoperasi meliputi pemberian analgesik, mobilisasi dini, serta monitoring kondisi ibu dan janin.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Menegaskan bahwa manajemen perioperatif pada pasien hamil harus melibatkan multidisiplin dan bersifat individual untuk meminimalkan komplikasi dan meningkatkan luaran ibu dan janin.</p>Karnissa RizkiaHikmatiar
Copyright (c) 2026 Karnissa Rizkia Adhania, Hikmatiar
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-272026-02-27441839510.55497/majanestcricar.v44i1.453Pengaruh Keseimbangan Cairan terhadap Outcome Pasien Gagal Ginjal Akut di ICU: Sebuah Tinjauan Sistematis
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/481
<p><strong>Pendahuluan:</strong> Keseimbangan cairan merupakan komponen penting dalam penatalaksanaan pasien kritis di unit perawatan intensif (ICU). Gagal ginjal akut sering terjadi pada pasien ICU dan berhubungan dengan prognosis buruk, peningkatan mortalitas, serta rendahnya pemulihan fungsi ginjal. Salah satu faktor yang memengaruhi luaran adalah manajemen keseimbangan cairan, terutama akumulasi cairan positif setelah fase resusitasi awal.</p> <p><strong>Metode:</strong> Tinjauan sistematik ini bertujuan menilai pengaruh keseimbangan cairan terhadap luaran pasien gagal ginjal akut di ICU berdasarkan pedoman PRISMA 2020. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed dan ScienceDirect menggunakan kata kunci relevan. Dari 803 artikel yang teridentifikasi, tujuh studi dalam lima tahun terakhir yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dianalisis.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Dari tujuh studi yang dianalisis, seluruhnya menunjukkan bahwa keseimbangan cairan kumulatif positif setelah diagnosis gagal ginjal akut menjadi faktor prediktor utama terhadap luaran buruk. Penumpukan cairan disebabkan oleh pemberian cairan maintenance dan nutrisi berlebih, rendahnya produksi urin, serta kurangnya penggunaan diuretik. Pasien dengan keseimbangan cairan tinggi persisten memiliki risiko kematian 28 hari dua kali lebih besar dan pemulihan ginjal yang lebih lambat dibanding kelompok dengan keseimbangan cairan rendah. Sebaliknya, penurunan cepat keseimbangan cairan berkorelasi dengan penurunan mortalitas dan perbaikan fungsi ginjal yang lebih cepat.</p> <p><strong>Simpulan:</strong> Akumulasi cairan positif pada pasien gagal ginjal akut di ICU terbukti meningkatkan mortalitas dan memperlambat pemulihan ginjal. Strategi deresusitasi dan pemantauan ketat keseimbangan cairan perlu menjadi prioritas utama untuk memperbaiki prognosis pasien gagal ginjal akut.</p>Ina Dhea Margaretta GintingAgustina Br Haloho
Copyright (c) 2026 Ina Dhea Margaretta Ginting, Agustina Br Haloho
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-02-272026-02-274419610510.55497/majanestcricar.v44i1.481