Majalah Anestesia & Critical Care
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal
<p>MACC is an official journal of The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (PERDATIN). This journal is an open-access medical journal double-blind peer-reviewed published quarterly (February, June, and October). This journal considers articles on all aspects of anesthesiology, critical care, perioperative care, and pain management. MACC encourages authors from any country in the world to submit manuscript on anesthesia and related subjects. We accept original articles, review articles, case reports, evidence-based case reports (EBCR), and letters to the editor/editorial.</p>Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)en-USMajalah Anestesia & Critical Care2502-7999Gabapentin dan Gabapentin-Amitriptilin sebagai Adjuvan Analgetik Nyeri Kanker di Klinik Nyeri RSUP H. Adam Malik Medan
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/350
<p><strong>Pendahuluan: </strong>Pasien kanker merasakan nyeri yang mempengaruhi kualitas hidup terutama pasien kanker stadium lanjut. Beberapa agen yang digunakan pada nyeri kanker adalah morfin, parasetamol, dan amitriptilin. Antidepresan, anti-epileptik, dan kortikosteroid mulai dieksplorasi untuk terapi nyeri pada penyakit non-kanker, namun penggunaannya dalam nyeri kanker masih belum dipelajari dengan baik. Beberapa studi menyimpulkan manfaat penggunaan gabapentin pada nyeri neuropatik dan nosiseptif, hingga kini belum ada studi efikasi agen tersebut pada nyeri kanker, maka penelitian terfokus kepada efikasi kombinasi antara amitriptilin dan gabapentin.</p> <p><strong>Metode: </strong>Penelitian ini menggunakan <em>Randomized Clinical Trial</em> dengan sistem <em>blinding</em>. Dua kelompok sampel diobservasi sebelum pemberian (T0), hari ke-1 (T1), ke-3 (T2), dan ke-7 (T3). Kelompok A menerima gabapentin dan kelompok B menerima gabapentin dengan amitriptilin. Analisis data menggunakan uji t independen atau Mann-Whitney.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Sebanyak 62 orang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok A mengalami keluhan mual, muntah, penurunan nafsu makan, dan pusing terbanyak sedangkan kelompok B mengalami keluhan sulit tidur terbanyak. Secara statistik, kelompok A maupun B mampu mereduksi skala nyeri berdasarkan skala pengukuran NRS dan <em>pain detect</em> (p<0,001) serta data keluhan awal dijumpai perbedaan signifikan (p<0,001). Perbedaan yang bermakna secara signifikan antara kedua regimen yang dianalisis juga tidak dijumpai dengan nilai p>0,05 pada seluruh waktu, kecuali pada variabel NRS di T3 (gabapentin (4,03±0,59)) dan kombinasi (3,53±0,82); p=0,009).</p> <p><strong>Simpulan: </strong>Temuan mengindikasikan perbedaan yang signifikan mungkin baru terlihat pada hari ke-7 pasca observasi, meskipun pada dasarnya regimen kombinasi lebih efektif untuk mereduksi nyeri dibandingkan gabapentin tunggal. Kelompok kombinasi mengalami penurunan derajat nyeri yang lebih tinggi namun hanya signifikan pada waktu T3-T2 menggunakan skala NRS. </p>Muhammad RamadhanQadri Fauzi TanjungEster Lantika SilaenTasrif HamdiMuhammad IhsanRina Amelia
Copyright (c) 2025 Muhammad ramadhan, Qadri Fauzi Tanjung, Ester Lantika Silaen, Tasrif Hamdi, Muhammad Ihsan, Rina Amelia
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2025-10-312025-10-3143323524610.55497/majanestcricar.v43i3.350Gambaran Kejadian Kandidiasis Invasif Berbasis Risiko di GICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2019-2023
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/418
<p><strong>Latar Belakang:</strong> Kandidiasis invasif (KI) adalah keadaan ketika ditemukannya <em>Candida spp</em>. pada pemeriksaan kultur darah atau bagian tubuh lainnya di mana sering terjadi pada pasien unit perawatan intensif (ICU). Diagnosis dan deteksi dini penting dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi serius, menjadi tantangan di negara berkembang yang diakibatkan oleh keterbatasannya dalam metode diagnosis dan ketersediaan obat. </p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan metode potong lintang dengan cara pengambilan data seluruhnya (<em>total sampling</em>). Data pasien diambil dari rekam medis pasien yang dirawat di GICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2019-2023, berupa data demografis, data klinis, hasil pemeriksaan penunjang, faktor risiko yang ada, dan hasil luaran pasien.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Pemeriksaan laboratorium dilakukan kepada pasien GICU dan didapatkan 81 pasien positif kandidiasis dengan data rekam medis yang lengkap. KI memiliki angka kejadian 18,5% dari total pasien positif kandidiasis. Gejala dan tanda klinis yang paling umum terjadi pada KI adalah demam. Sebanyak 50 pasien (61,7%) memiliki faktor risiko berupa durasi perawatan, penggunaan antibiotik, dan penggunaan alat medik >7 hari. Hampir seluruh antijamur yang diberikan kepada pasien KI adalah fluconazole (86,7%). Angka kematian pasien kandidiasis invasif pada pasien GICU pada tahun 2019-2023 di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung mencapai 73,3%.</p> <p><strong>Simpulan:</strong> Kandidiasis invasif pada pasien GICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 2019–2023 memiliki angka kejadian 18,5% dengan faktor risiko utama berupa lama perawatan, penggunaan antibiotik, dan penggunaan alat medik >7 hari. Mortalitas pasien cukup tinggi, sehingga diagnosis dini dan terapi antijamur yang tepat sangat penting untuk meningkatkan luaran pasien.</p>Sean Natanael SuwandiNurita Dian Kestriani Saragi SitioRaissa Adelia RinaldiLeonardus WidyatmokoNisa Fauziah
Copyright (c) 2025 Sean Natanael Suwandi, Nurita Dian Kestriani Saragi Sitio, Raissa Adelia Rinaldi, Leonardus Widyatmoko, Nisa Fauziah
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2025-10-312025-10-3143324725610.55497/majanestcricar.v43i3.418Perbandingan Tingkat Kesulitan Intubasi dengan Menggunakan Bantal dan Tanpa Bantal di Ruang Operasi RSUP H. Adam Malik
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/406
<p><strong>Latar Belakang:</strong> Intubasi endotrakeal merupakan teknik yang cepat, sederhana, dan aman untuk mencapai tujuan manajemen jalan napas. Posisi kepala dan leher yang tepat, sering kali ditingkatkan dengan bantal kepala, sangat penting untuk laringoskopi dan intubasi trakea yang efektif, karena dapat meningkatkan sudut oksipito-atlanto-aksial dan memperbesar ruang submandibular.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian <em>cross-sectional</em> acak di RSUP H. Adam Malik Medan ini membandingkan kesulitan intubasi dengan dan tanpa menggunakan bantal. Sebanyak 24 subjek dibagi dua kelompok, masing - masing 12 orang. Data meliputi usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh (IMT), status ASA, skor Wilson, dan skor Cormack-Lehane.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Rata-rata usia kelompok tanpa bantal 49,4 ± 12,1 tahun dan dengan bantal 44,3 ± 14,4 tahun. Sebagian besar subjek tanpa bantal adalah laki-laki, sedangkan dengan bantal perempuan. IMT ratarata masing-masing 21,0 ± 1,65 kg/m² dan 21,8 ± 1,85 kg/m². ASA I lebih banyak pada kelompok tanpa bantal, sedangkan ASA I dan II sama pada kelompok dengan bantal. Tidak ada perbedaan signifikan karakteristik dasar kedua kelompok. Skor Wilson memprediksi intubasi mudah pada sebagian besar pasien. Skor rata-rata Wilson lebih tinggi pada kelompok tanpa bantal (15,9 ± 1,6) dibanding dengan bantal (10,8 ± 1,8; p<0,05). Skor Cormack-Lehane menunjukkan kelompok dengan bantal lebih sering pada tingkat 1 dibanding tanpa bantal yang dominan tingkat 2 (p<0,05).</p> <p><strong>Simpulan:</strong> Intubasi tanpa bantal membutuhkan sedikit bantuan, sementara sebagian besar pasien yang menggunakan bantal dapat dengan mudah diintubasi. Tidak ada perbedaan yang signifikan di antara kedua kelompok.</p>Ade Putra Fratama SinagaTasrif HamdiQadri Fauzi Tanjung
Copyright (c) 2025 Ade Putra Fratama Sinaga, Tasrif Hamdi, Qadri Fauzi Tanjung
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2025-10-312025-10-3143325726510.55497/majanestcricar.v43i3.406Efektivitas Blok Nervus Maksilaris Suprazigomatika pada Pasien Miastenia Gravis yang Menjalani Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS)
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/422
<p><strong>Pendahuluan:</strong> Secara global, prevalensi dan insidensi miastenia gravis meningkat, dengan tingkat<br>insidensi 5,3 orang per juta dan prevalensi 77,7 orang per juta. Dengan meningkatnya prevalensi,<br>penting bagi seorang anestesiolog untuk mengetahui patofisiologi dan komplikasinya, terutama<br>krisis miastenia. Salah satu pencetus terjadinya krisis adalah berupa nyeri pascaoperasi. Pada<br>kasus ini, kami memilih teknik pembiusan tanpa pelumpuh otot dan teknik blok nervus maksilaris<br>suprazigomatika sebagai teknik analgetik pascaoperasi pasien miastenia yang menjalani functional<br>endoscopic sinus surgery (FESS).<br><strong>Deskripsi Kasus:</strong> Pasien perempuan usia 32 tahun didiagnosis pansinusitis dan riwayat miastenia<br>gravis terkontrol dengan terapi direncanakan menjalani FESS bilateral. Induksi dilakukan dengan<br>kombinasi agen anestesi sevofluran dan propofol serta analgetik fentanyl. Sebelum ekstubasi,<br>pasien diberikan blok maksilaris dengan pendekatan suprazigomatik menggunakan bupivakain<br>0,25% sebanyak 5 ml pada masing-masing sisi. Ekstubasi dilakukan berdasarkan penilaian kekuatan<br>otot menggunakan Train of Four (TOF). Pasien berhasil diekstubasi tanpa komplikasi, dengan nilai<br>Numeric Rating Scale (NRS) 0/10 pada 48 jam pascaoperasi.<br><strong>Simpulan:</strong> Kombinasi sevofluran dan propofol dengan blok maksilaris pendekatan suprazigomatik<br>efektif untuk manajemen anestesi dan nyeri akut pascaoperasi pada pasien miastenia yang menjalani<br>FESS.</p>Kadek Agus Heryana PutraPita Mora LesmanaTjokorda Gde Agung Senapathi
Copyright (c) 2025 Kadek Agus Heryana Putra, Pita Mora Lesmana, Tjokorda Gde Agung Senapathi
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2025-10-312025-10-3143326627410.55497/majanestcricar.v43i3.422Hyperlactatemia Post-CABG: Case Studies in Three Patients
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/429
<p><strong>Introduction:</strong> Hyperlactatemia after CABG may signal intra- or postoperative complications by reflecting a mismatch between tissue oxygen supply and metabolic demand, with potential for organ dysfunction and worse outcomes. This case report examined contributing factors—including metabolic acidosis, postoperative metabolic stress, and inotropic agents—to guide targeted interventions and improve clinical results.</p> <p><strong>Case Description:</strong> Three patients underwent CABG, with the first and second remaining hemodynamically stable in the ICU on dobutamine and nitroglycerin, whereas the third required norepinephrine, epinephrine, and temporary pacing for instability. None exceeded 4 mmol/L during CPB or immediately after separation, yet all showed immediate-onset hyperlactatemia (IHL)—a phenomenon reported in 17% of cases, especially with longer CPB/cross-clamp times. All subsequently developed late-onset hyperlactatemia (LHL) at 4–12 hours: first and third patient had hyperglycemia, whereas the second reached the highest 12-hour lactate peak without hyperglycemia. LHL likely reflected type-B lactate from postoperative inflammatory/metabolic stress and insulin resistance, typically normalizing within 12–24 hours without a marked drop in base excess. Third patient’s sharp<br>4-hour surge was plausibly epinephrine-related—more consistent with preserved metabolic reserve than with adverse prognosis.</p> <p><strong>Conclusion:</strong> In post-CABG patients, hyperlactatemia may arise from non-hypoxic, multifactorial mechanisms (inflammation, metabolic stress, and inotropes) and thus warrants context-aware interpretation and targeted management rather than reflexive attribution to tissue hypoxia.</p>Ardyan WardhanaJuni Kurniawaty
Copyright (c) 2025 Ardyan Wardhana, Juni Kurniawaty
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2025-10-312025-10-3143327528410.55497/majanestcricar.v43i3.429Anestesi SAYGO untuk Intubasi Sadar Selama Tiroidektomi dan Sternotomi: Laporan Kasus
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/443
<p><strong>Pendahuluan:</strong> Teknik anestesi <em>Spray-As-You-Go</em> (SAYGO) merupakan metode terstruktur yang efektif dalam menangani intubasi sadar pada pasien dengan jalan napas sulit.</p> <p><strong>Deskripsi Kasus:</strong> Laporan ini menyajikan kasus seorang wanita berusia 59 tahun dengan tiroid multinodular retrosternal (MNT) besar yang menyebabkan kompresi dan deviasi trakea. Dalam kasus ini, dilakukan intubasi fiberoptik terjaga menggunakan teknik SAYGO, dengan pendekatan kombinasi anestesi topikal lidokain, sedasi deksmedetomidin, dan oksigenasi adekuat. Prosedur diawali dengan nebulisasi lidokain, diikuti dengan penyemprotan lidokain intratrakeal 2% selama proses intubasi fiberoptik, kemudian dilanjutkan dengan induksi anestesi umum menggunakan propofol dan atrakurium setelah intubasi berhasil.</p> <p><strong>Simpulan:</strong> Teknik SAYGO terbukti mampu menjaga kenyamanan pasien, mempertahankan patensi jalan napas, dan meminimalkan fluktuasi hemodinamik, sehingga meningkatkan tingkat keberhasilan dan keselamatan intubasi. Pendekatan ini sangat bermanfaat terutama pada kasus dengan kompresi trakea akibat massa tiroid atau mediastinum, karena mampu menurunkan risiko komplikasi dan meningkatkan keberhasilan prosedur.</p>Beny Pratama SidabutarMarilaeta Cindryani Ra RatumasaTjokorda Gde Agung SenapathiOtniel Adrians Labobar
Copyright (c) 2025 Beny Pratama Sidabutar, Marilaeta Cindryani Ra Ratumasa, Tjokorda Gde Agung Senapathi, Otniel Adrians Labobar
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2025-10-312025-10-3143328529410.55497/majanestcricar.v43i3.443Opioid-Free Anesthesia as a Part of Multimodal Anesthesia Approach in Modified Radical Mastectomy: A Case Report
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/445
<p><strong>Introduction:</strong> The shift towards opioid-free anesthesia (OFA) reflects a growing effort to enhance patient safety and reduce opioid-related adverse effects, particularly in oncology surgeries such as modified radical mastectomy (MRM). </p> <p><strong>Case Description:</strong> We describe the anesthetic management of a 51-year-old female with infiltrating ductal carcinoma of the left breast who underwent MRM under an opioid-free anesthetic protocol. Induction was performed with propofol via target-controlled infusion (TCI), followed by intraoperative dexmedetomidine infusion for sedation and analgesia. An ultrasound-guided erector spinae plane (ESP) block at the T5 level was performed with 0.375% ropivacaine and dexamethasone to provide regional analgesia. Intraoperative hemodynamics remained stable, no rescue opioids were required, and blood loss was minimal. Postoperative pain control was achieved with a low-dose dexmedetomidine infusion, intravenous ketorolac, and oral paracetamol. The patient reported minimal pain (NRS 0–1/10), had no nausea, vomiting, or respiratory depression, and recovered uneventfully.</p> <p><strong>Conclusion:</strong> OFA offers oncological advantages by preserving immune function and reducing tumor- promoting factors, making it a promising alternative in cancer surgery. This report supports the feasibility and benefits of OFA in major breast cancer procedures, underscoring its role in enhancing recovery and potentially improving long-term oncologic outcomes.</p>Togi Stanislaus PatrickCynthia Dewi SinardjaTjokorda Gde Agung SenapathiMarilaeta Cindryani Ra Ratumasa
Copyright (c) 2025 Togi Stanislaus Patrick, Cynthia Dewi Sinardja, Tjokorda Gde Agung Senapathi, Marilaeta Cindryani Ra Ratumasa
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2025-10-312025-10-3143329530410.55497/majanestcricar.v43i3.445Dexamethasone as Prophylaxis of Postoperative Nausea and Vomiting in Cardiothoracic Surgery: Systematic Review and Meta-Analysis
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/450
<p><strong>Introduction:</strong> Postoperative nausea and vomiting (PONV) remain common and distressing complications following surgery, particularly after high-risk procedures such as cardiothoracic surgeries. Dexamethasone, a corticosteroid with anti-inflammatory and antiemetic effects, has been widely investigated for its role in PONV prevention. This study aimed to evaluate the efficacy of dexamethasone in reducing the incidence of PONV among patients undergoing cardiothoracic surgery through a systematic review and meta-analysis.</p> <p><strong>Methods:</strong> The systematic review followed the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) 2020 guidelines. Randomized Controlled Trials (RCTs) comparing dexamethasone with placebo or no intervention in cardiothoracic surgery were included. The primary outcome was the incidence of PONV within 24 hours postoperatively; secondary outcomes included the need for rescue antiemetics and the occurrence of adverse effects such as hyperglycemia or infection. Statistical analysis was conducted using Review Manager 5.4, with heterogeneity assessed by the I² and Q/df tests.</p> <p><strong>Results:</strong> Four RCTs published between 2018 and 2023 were included, showing low risk of bias and symmetrical funnel plots. The pooled analysis demonstrated a statistically significant reduction in PONV with dexamethasone (OR = 0.57, 95% CI = 0.41–0.80, p = 0.001, I² = 9%, Q/df = 0.98).</p> <p><strong>Conclusion:</strong> Dexamethasone significantly reduces the incidence of PONV in patients undergoing cardiothoracic surgery with consistent findings across studies. Further large-scale RCTs are needed to confirm long-term safety and optimize clinical protocols.</p>Marcell Dion WibowoMarilaeta Cindryani Ra RatumasaI Ketut Jaya NingratMade Septyana Parama AdiAnak Agung Gede Krisnayana
Copyright (c) 2025 Marcell Dion Wibowo, Marilaeta Cindryani Ra Ratumasa, I Ketut Jaya Ningrat, Made Septyana Parama Adi, Anak Agung Gede Krisnayana
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2025-10-312025-10-3143330531510.55497/majanestcricar.v43i3.450