Majalah Anestesia & Critical Care
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal
<p>MACC is an official journal of The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (PERDATIN). This journal is an open-access medical journal double-blind peer-reviewed published quarterly (February, June, and October). This journal considers articles on all aspects of anesthesiology, critical care, perioperative care, and pain management. MACC encourages authors from any country in the world to submit manuscript on anesthesia and related subjects. We accept original articles, review articles, case reports, evidence-based case reports (EBCR), and letters to the editor/editorial.</p>Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)en-USMajalah Anestesia & Critical Care2502-7999Menyeimbangkan Efisiensi dan Keselamatan: Re-evaluasi Intubasi Tanpa Pelumpuh Otot pada Operasi Berdurasi Singkat
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/528
<p>Praktik anestesi modern dituntut untuk mempercepat alur kerja kamar operasi pada prosedur singkat seperti ekstraksi gigi impaksi. Penggunaan rutin pelumpuh otot berisiko menunda pemulihan akibat efek sisa blokade neuromuskular, sementara alternatif seperti sugammadex terkendala biaya. Sebagai solusi, kombinasi propofol dan remifentanil tanpa pelumpuh otot mulai dieksplorasi. Evaluasi ini mengulas bukti klinis dari studi retrospektif terhadap 43 pasien yang menjalani prosedur pencabutan gigi. Kombinasi remifentanil (rerata 3,08 µg/kg) dan propofol (2,06 mg/kg) memberikan kondisi intubasi adekuat dengan durasi emergence yang sangat cepat, yaitu rerata 5,88 menit. Sebanyak 65,1% subjek melewati fase pasca-intubasi tanpa komplikasi berarti. Meski efisien, teknik ini mengorbankan stabilitas hemodinamik; tercatat adanya penurunan denyut jantung sebesar 16%, tekanan darah sistolik 20%, dan diastolik 26%. Selain itu, ditemukan insiden batuk atau pergerakan tubuh pasien sebesar 27,9%. Intubasi tanpa pelumpuh otot merupakan opsi yang logis, praktis, dan efisien untuk pasien muda berisiko rendah (ASA I atau II) pada operasi minor singkat. Namun, klinisi harus tetap berhati-hati karena risiko kolaps hemodinamik tetap mengintai. Bagi populasi rentan seperti pasien geriatri, obesitas morbid, atau dengan penyulit vaskular, penggunaan pelumpuh otot berdurasi singkat tetap menjadi pilihan paling aman demi menjaga keselamatan pasien.</p>Riyadh Firdaus
Copyright (c) 2026 Riyadh Firdaus
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-06-302026-06-3044210610810.55497/majanestcricar.v44i2.528Kombinasi Remifentanil dan Propofol tanpa Pelumpuh Otot untuk Intubasi pada Prosedur Pencabutan Gigi: Studi Retrospektif
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/490
<p><strong>Pendahuluan:</strong> Intubasi pada anestesi umum rutin menggunakan obat pelumpuh otot, namun penggunaannya dapat meningkatkan risiko komplikasi dan memperpanjang durasi emergence, sehingga kurang sesuai untuk operasi singkat seperti pencabutan gigi. Kombinasi remifentanil dan propofol tanpa pelumpuh otot dapat memberikan kondisi intubasi yang baik dengan waktu kerja yang singkat. Tujuan penelitian ini untuk memperlihatkan durasi <em>emergence</em> anestesi umum dari kombinasi remifentanil dan propofol tanpa pelumpuh otot untuk prosedur pencabutan gigi, perubahan hemodinamik, dan komplikasi yang menyertai.<br><strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan desain <em>cross-sectional</em> retrospektif dengan pendekatan <em>pre post test</em> untuk mengevaluasi parameter hemodinamik pada 43 pasien yang menjalani pencabutan gigi di RS Tk II Iskandar Muda, Banda Aceh, periode Juni 2024 – Februari 2025.<br><strong>Hasil:</strong> Sebagian besar pasien berjenis kelamin perempuan (67,4%) dengan rerata usia 26,8 tahun. Dosis rerata remifentanil dan propofol adalah 3,08 ± 0,19 µg/kg dan 2,06 ± 0,13 mg/kg. Terdapat perubahan hemodinamik yang bermakna sebelum dan sesudah intubasi (p < 0,001) dengan penurunan denyut jantung sebesar -16% ± 15%, sistolik −20% ± 15%, dan diastolik −26% ± 27%. Durasi <em>emergence</em> anestesi tercatat selama rata-rata 5,88 ± 2,7 menit dengan durasi anestesi dan pembedahan masing-masing 29,65 ± 7,9 dan 14,86 ± 4,6 menit. Tidak ada komplikasi pada 65,1% pasien. <br><strong>Simpulan:</strong> Kombinasi remifentanil dan propofol menghasilkan durasi <em>emergence</em> singkat, yakni 5 menit dengan penurunan hemodinamik yang signifikan pada rentang 15-26% dari pra-anestesi. Mayoritas pasien tidak mengalami komplikasi pascaintubasi dan komplikasi yang terjadi umumnya ringan.</p>Hendy Armanda ZaintamaHafizh AriefGrace WidyaraniElisa Purwaendah
Copyright (c) 2026 Hendy Armanda Zaintama, Hafizh Arief, Grace Widyarani, Elisa Purwaendah
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-06-302026-06-3044210911910.55497/majanestcricar.v44i2.490Hubungan Skor FORREST dengan Mortalitas Pasien Kritis Non-Trauma di IGD RS PKU Muhammadiyah Gamping
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/505
<p style="font-weight: 400;"><strong>Pendahuluan:</strong> Kematian pasien kritis non-trauma di Instalasi Gawat Darurat (IGD) masih tinggi, terutama pada sepsis, syok, dan henti jantung, sehingga diperlukan prediktor mortalitas yang cepat dan mudah digunakan. Skor Futile for Resuscitation (FORREST), khususnya versi tiga variabel yang meliputi anemia, gangguan napas, dan penggunaan vasoaktif, dinilai praktis dengan kemampuan prediksi yang baik. Penelitian ini bertujuan menilai hubungan skor FORREST tiga variabel dengan mortalitas 24 jam pada pasien kritis non-trauma di IGD RS PKU Muhammadiyah Gamping.<br><strong>Metode:</strong> Penelitian ini merupakan studi observasional retrospektif analitik. Teknik pengambilan subjek menggunakan purposive sampling. Sumber data penelitian berupa data sekunder dari rekam medis. Subjek penelitian adalah 170 pasien RS PKU Muhammadiyah Gamping yang berusia lebih dari 17 tahun. Skor FORREST dikategorikan tinggi apabila ≥4 dan rendah apabila <4. Variabel anemia, gangguan napas, dan penggunaan vasoaktif ditentukan berdasarkan data klinis dan rekam medis pasien pada fase awal perawatan di IGD. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-square dengan nilai signifikansi p<0,05.<br><strong>Hasil:</strong> Dari 170 subjek penelitian, mayoritas merupakan pasien usia lanjut, berjenis kelamin laki-laki, dan memiliki skor FORREST rendah. Mortalitas 24 jam terjadi pada 33 pasien (19,4%). Hasil analisis Chi-square menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara skor FORREST dengan mortalitas pasien (p=0,003). Pasien dengan skor FORREST tinggi memiliki odds mortalitas 3,126 kali dibandingkan pasien dengan skor FORREST rendah. <br><strong>Simpulan</strong>: Skor FORREST tiga variabel berhubungan secara signifikan dengan mortalitas pasien kritis non-trauma di IGD dan berpotensi digunakan sebagai alat stratifikasi risiko awal.</p>Fasshan Alivio SusatiyoArdi PramonoAdang Muhammad Gugun
Copyright (c) 2026 Fasshan Alivio Susatiyo, Ardi Pramono, Adang Muhammad Gugun
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-06-302026-06-3044212012710.55497/majanestcricar.v44i2.505Waktu Kesiapan Pulang Pasca Anestesia Spinal pada Prosedur Rawat Jalan Brakiterapi Kanker Serviks: Perbandingan Bupivakain 2,5 mg Hiperbarik + Fentanil 25 mcg dengan Levobupivakain 5 mg Hiperbarik + Fentanil 25 mcg
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/493
<p><strong>Pendahuluan:</strong> Anestesia spinal merupakan prosedur anestesi yang umum dilakukan pada prosedur rawat jalan brakiterapi intrakaviter untuk kanker serviks. Pemilihan obat yang memiliki waktu kesiapan pulang yang lebih cepat diharapkan dapat membuat pasien pulang lebih cepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu kesiapan pulang pasca anestesia spinal dengan bupivakain 2,5 mg hiperbarik + fentanil 25 mcg dan levobupivakain 5 mg hiperbarik + fentanil 25 mcg pada brakiterapi.<br><strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan desain uji klinis acak yang tersamar tunggal yang dilaksanakan pada unit radiologi RSCM pada Januari – Juni 2021. Terdapat 48 orang subyek penelitian yang akan dibagi menjadi dua kelompok. Pengukuran waktu kesiapan pulang pada kedua kelompok dilakukan dengan menggunakan <em>Modified PADSS score</em>. Pengukuran waktu pulih dilakukan dengan menggunakan <em>bromage score</em>.<br><strong>Hasil:</strong> Variabel usia, berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT), dan skor ASA tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok. Median waktu pulih pada kelompok bupivakain 2,5 mg hiperbarik + fentanil 25 mcg dan kelompok levobupivakain 5 mg hiperbarik + fentanil 25 mcg adalah 60 (30 – 120) menit dan 90 (60 – 120) menit (p<0,001) sedangkan rata-rata waktu kesiapan pulang adalah 130,00 ± 22,84 menit dan 170,00 ± 22,84 menit (p<0,001). Hipotensi terdapat 1 pasien (4,2%) pada kelompok bupivakain.<br><strong>Simpulan:</strong> Waktu kesiapan pulang, waktu pulih pasca anestesia spinal pada kelompok bupivakain 2,5 mg hiperbarik + fentanil 25 mcg lebih cepat jika dibandingkan dengan levobupivakain 5 mg hiperbarik + fentanil 25 mcg pada brakiterapi.</p>Alfan Mahdi NugrohoAnas AlatasAmbo Sumange
Copyright (c) 2026 Alfan Mahdi Nugroho, Anas Alatas, Ambo Sumange
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-06-302026-06-3044212813610.55497/majanestcricar.v44i2.493Senning Procedure in Adolescent With TGA-IVS: Anesthetic Strategy
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/477
<p><strong>Introduction:</strong> Transposition of the great arteries with intact ventricular septum (TGA-IVS) is typically corrected in infancy, with arterial switch operation (ASO) as the gold standard. Survival into adolescence is exceptionally rare and depends on adequate intercirculatory mixing through an atrial septal defect. <br><strong>Case Description:</strong> This study presents a case of a 13-year-old adolescent with TGA-IVS who underwent the senning procedure as an alternative due to unsuitability for ASO. Anesthetic management included judicious selection of inotropes with milrinone and epinephrine, strict rhythm control, electrolyte optimization, and intraoperative transesophageal echocardiography (TEE) monitoring. Perioperative diagnosis revealed RV systolic pressure >⅔ of systemic, necessitating the senning procedure to redirect venous return at the atrial level. The patient was successfully managed with satisfactory clinical outcomes oxygen saturation >95% without arrhythmias at hospital discharge on postoperative day 7. Meticulous anesthetic management addressing systemic RV dysfunction and arrhythmia prevention proved crucial for surgical success.<br><strong>Conclusion:</strong> This case emphasizes the significant role of anesthesiologists in managing this complex cardiac population, particularly in rare cases where anatomical repair is no longer feasible.</p>Arga Ilyasa KusumaRiza CintyandyPribadi Wiranda BusroRifdhani Fakhrudin Nur
Copyright (c) 2026 Arga Ilyasa Kusuma, Riza Cintyandy, Pribadi Wiranda Busro, Rifdhani Fakhrudin Nur
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-06-302026-06-3044213714410.55497/majanestcricar.v44i2.477Erector Spinae Plane Block (ESPB) pada pasien Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS) dengan Komorbiditas
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/478
<p><strong>Pendahuluan :</strong> Penggunaan <em>erector spinae plane block</em> (ESPB) sebagai bagian dari analgesia multimodal pada pasien berisiko tinggi yang menjalani <em>minimally invasive cardiac surgery (</em>MICS) masih jarang dilaporkan. Bukti mengenai keamanan dan efektivitas ESPB pada pasien geriatri dengan komorbiditas kompleks, termasuk penyakit arteri koroner tiga pembuluh, diabetes melitus tipe 2, dan <em>acute kidney injury</em> (AKI), masih terbatas. Laporan kasus ini bertujuan untuk menyoroti peran ESPB sebagai teknik analgesia regional pada kelompok pasien tersebut.</p> <p><strong>Deskripsi kasus :</strong> Laki-laki berusia 76 tahun datang dengan keluhan nyeri dada hilang timbul selama satu tahun. Pemeriksaan angiografi koroner menunjukkan stenosis berat pada <em>left main</em>, <em>left anterior descending</em>, dan <em>right coronary artery</em>, serta oklusi total pada<em> left circumflex artery</em>, sehingga ditegakkan diagnosis penyakit arteri koroner tiga pembuluh dengan keterlibatan <em>left main</em>. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 selama lebih dari 25 tahun, disertai gangguan fungsi ginjal dengan kreatinin serum 1,87 mg/dL dan estimasi laju filtrasi glomerulus 34,15 mL/menit/1,73 m². Pasien menjalani MICS-CABG dua graft. Anestesi umum dilakukan menggunakan <em>double-lumen tube</em> sisi kiri, didahului dengan ESPB unilateral pada tingkat torakal T4–T5 dengan panduan ultrasonografi. Pascaoperasi, pasien dirawat di unit perawatan intensif dengan durasi ventilasi mekanik kurang dari enam jam dan memperoleh analgesia berupa morfin infus kontinu serta parasetamol intravena. Penilaian nyeri menunjukkan skor <em>behavioral pain scale</em> (BPS) 3/12 sebelum ekstubasi dan <em>numeric rating scale</em> (NRS) 0–1/10 dua jam setelah ekstubasi, tanpa gangguan respirasi maupun hemodinamik bermakna.</p> <p><strong>Simpulan </strong>: ESPB merupakan teknik analgesia regional yang aman dan efektif pada pasien geriatri dengan komorbid yang menjalani MICS serta berpotensi menurunkan kebutuhan opioid dan mempercepat pemulihan pascaoperasi.</p>ErwinsyahI Gusti Ngurah Mahaalit AribawaCynthia Dewi Sinardja
Copyright (c) 2026 Erwinsyah, I Gusti Ngurah Mahaalit Aribawa, Cynthia Dewi Sinardja
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-06-302026-06-3044214515110.55497/majanestcricar.v44i2.478Modified Retrograde Intubation Sebagai Alternatif Manajemen Jalan Napas Sulit pada Kondisi Terbatas: Sebuah Laporan Kasus
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/495
<p><strong>Pendahuluan:</strong> Manajemen jalan napas sulit merupakan tantangan penting dalam praktik anestesiologi dan kegawatdaruratan karena kegagalannya dapat menyebabkan hipoksemia, henti jantung, hingga kematian. Meskipun berbagai algoritma seperti <em>Difficult Airway Society</em> (DAS) <em>algorithm</em> telah dikembangkan, keterbatasan sarana di fasilitas tertentu menuntut penggunaan teknik alternatif, salah satunya adalah <em>retrograde intubation</em>.<br><strong>Deskripsi Kasus:</strong> Seorang pria berusia 60 tahun dengan obesitas (IMT 32 kg/m²), riwayat stroke non-hemoragik, diabetes melitus, dan hipertensi dirawat di ICU dengan penurunan kesadaran (GCS E1V2M2). Pasien memerlukan intubasi endotrakeal karena risiko proteksi jalan napas yang buruk. Upaya intubasi menggunakan direct laryngoscope dilakukan sebanyak enam kali namun gagal, disertai edema laring dengan skor <em>Cormack–Lehane</em> derajat III. Tidak tersedianya <em>Supraglottic Airway Device</em> (SAD) serta kondisi pasien yang tidak memungkinkan untuk dibangunkan menjadi pertimbangan dilakukannya <em>retrograde intubation</em>. Prosedur dilakukan melalui membran krikotiroid menggunakan kateter IV 16G dan kawat <em>Central Venous Catheter</em> sebagai <em>guidewire</em>. <em>Endotracheal tube</em> dengan stilet berhasil dimasukkan setelah dilakukan modifikasi panjang tabung. Jalan napas pasien berhasil diamankan dan oksigenasi dapat dipertahankan dengan baik.<br><strong>Simpulan:</strong> <em>Retrograde intubation</em> merupakan teknik yang efektif dan layak dipertimbangkan sebagai alternatif manajemen jalan napas sulit ketika <em>direct laryngoscopy</em> gagal, terutama pada fasilitas dengan keterbatasan sarana.</p>Mohammad Rizky AriestoArdian Pratiaksa
Copyright (c) 2026 Mohammad Rizky Ariesto, Ardian Pratiaksa
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-06-302026-06-3044215215910.55497/majanestcricar.v44i2.495Manajemen Anestesi pada Pasien dengan Mioma Uteri yang Menjalani Laparotomi Miomektomi
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/504
<p><strong>Pendahuluan :</strong> Mioma uteri merupakan tumor jinak pada otot polos uterus yang sering ditemukan pada wanita usia produktif dan dapat menimbulkan gejala berupa nyeri serta gangguan menstruasi. Salah satu penatalaksanaan mioma uteri adalah tindakan pembedahan miomektomi, yang memerlukan manajemen anestesi yang tepat untuk menjaga stabilitas hemodinamik dan keberhasilan operasi.<br><strong>Deskripsi kasus:</strong> Dilaporkan kasus seorang wanita berusia 32 tahun dengan diagnosis mioma uteri yang menjalani laparotomi miomektomi. Pasien memiliki status fisik ASA II dan dilakukan anestesi spinal pada segmen L3-L4 menggunakan bupivakain hiperbarik sebagai agen anestesi utama. Premedikasi diberikan midazolam, serta adjuvan berupa opioid dan analgetik untuk menunjang kenyamanan pasien. Selama operasi, pasien mendapatkan terapi cairan intravena dan suplementasi oksigen. Tidak ditemukan komplikasi intraoperatif maupun pascaoperasi, dengan kondisi hemodinamik yang stabil. Pemantauan pascaoperasi menunjukkan pemulihan motorik yang baik berdasarkan <em>Bromage score</em>.<br><strong>Simpulan:</strong> Manajemen anestesi spinal pada kasus ini memberikan hasil yang efektif dan aman pada prosedur laparotomi miomektomi dengan stabilitas hemodinamik yang terjaga tanpa komplikasi.</p>RahmaniaAulia Nailaufar Rizky
Copyright (c) 2026 Rahmania, Aulia Nailaufar Rizky
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-06-302026-06-3044216016510.55497/majanestcricar.v44i2.504Komparasi Penggunaan Natrium Bikarbonat Dibandingkan dengan Pergantian Defisit Cairan pada Ketoasidosis Metabolik Diabetikum: Sebuah Laporan Kasus
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/506
<p><strong>Pendahuluan :</strong> Penanganan kasus ketoasidosis metabolik diabetikum berfokus terhadap regulasi gula darah, regulasi defisit cairan, dan kondisi asidosis. Pemberian natrium bikarbonat menjadi bahasan dan perdebatan mengenai efektivitasnya.<br><strong>Deskripsi kasus:</strong> Dalam laporan kasus ini, kami menerima dua orang pasien dengan ketoasidosis diabetikum dan melakukan penanganan yang berbeda pada keduanya. Satu pasien dilakukan resusitasi defisit cairan tanpa pemberian natrium bikarbonat untuk kondisi asidosisnya, dibandingkan dengan pasien lain yang mendapat natrium bikarbonat sejak awal terapi. Kedua pasien mengalami perbaikan kondisi asidosis dengan mekanisme yang berbeda. Pada pasien yang mendapatkan terapi natrium bikarbonat sejak awal, terjadi pergeseran pH yang tidak sesuai dengan perbaikan nilai <em>base deficit</em>, sementara hal tersebut tidak terjadi pada pasien lainnya.<br><strong>Simpulan:</strong> Hasil yang lebih baik didapatkan pada pasien yang dilakukan penggantian volume secara adekuat dibandingkan pasien yang sejak awal mendapatkan natrium bikarbonat, baik secara klinis maupun kondisi mikroseluler, berdasarkan hasil analisis gas darah.</p>Johannes Panondang GultomLara Paradilla RoseJethro FelimFennie Rufini
Copyright (c) 2026 Johannes Panondang Gultom, Lara Paradilla Rose, Jethro Felim, Fennie Rufini
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-06-302026-06-3044216617410.55497/majanestcricar.v44i2.506Hubungan Intensitas Fisioterapi Respirasi dengan Lama Pemakaian Ventilator Mekanik Pada Pasien ICU Dewasa: Tinjauan Sistematik
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/460
<p style="font-weight: 400;">Fisioterapi respirasi berperan penting dalam pemulihan pasien ICU dengan ventilasi mekanik, namun pengaruh intensitas terhadap lama pemakaian ventilator masih belum jelas akibat kurangnya perhatian pada aspek dosis-respons. Tinjauan sistematik ini bertujuan menilai hubungan intensitas fisioterapi respirasi dengan lama pemakaian ventilator mekanik pada pasien dewasa di ICU.<br>Tinjauan disusun mengikuti PRISMA 2020 dengan penelusuran literatur pada <em>PubMed, ScienceDirect,</em><br>dan <em>Europe PMC</em>. Studi yang diinklusi adalah RCT dan uji klinis pada pasien dewasa ventilasi mekanik invasif di ICU dengan intervensi fisioterapi respirasi yang melaporkan informasi intensitas (frekuensi, durasi, atau dosis) dan luaran berupa lama ventilasi dan/atau <em>ventilator-free days</em>. Risiko bias dinilai menggunakan Cochrane RoB 2 dan NOS. Empat RCT memenuhi kriteria inklusi. <em>Highintensity inspiratory muscle training</em> (IMT) sekali sehari meningkatkan kualitas hidup namun tidak memengaruhi durasi ventilasi. Fisioterapi pada pasien COVID-19 meningkatkan kelangsungan hidup 90 hari tanpa memperbaiki <em>ventilator-free days</em>. <em>Continuous high-frequency oscillation</em> 3–4 sesi/hari menurunkan jaringan paru non-aerasi dan meningkatkan <em>ventilator-free days</em>. <em>Threshold</em> IMT intensif memperpendek weaning days dibanding fisioterapi konvensional. Tinjauan literatur ini menemukan bahwa intensitas fisioterapi respirasi berhubungan dengan lama pemakaian ventilator mekanik. Pemberian intensitas yang lebih tinggi (≥3 sesi/hari atau <em>threshold loading</em>) cenderung memperpendek durasi weaning dan meningkatkan ventilator-free days dibandingkan intensitas rendah. Diperlukan uji klinis multisenter dengan definisi intensitas terstandar untuk menetapkan dosis optimal.</p>Aisyah Mulya ZhafirahAgustina Br Haloho
Copyright (c) 2026 Aisyah Mulya Zhafirah, Agustina Br Haloho
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-06-302026-06-3044217518310.55497/majanestcricar.v44i2.460Renal Replacement Therapy for Septic Shock Patients in ICU: A Systematic Review
https://macc.perdatin.org/index.php/my-journal/article/view/492
<p><strong>Introduction:</strong> Septic shock is a life-threatening condition frequently complicated by acute kidney injury (AKI), often necessitating renal replacement therapy (RRT) in the intensive care unit. This systematic review aims to critically appraise renal replacement therapy modalities in adult patients with septic shock in the ICUt.</p> <p><strong>Methods</strong>: This comprehensive systematic review synthesizes evidence from 80 sources, including meta-analyses, randomized controlled trials, and observational studies from 2004 to 2025. A structured screening process focused on adult ICU patients with septic shock receiving RRT, excluding chronic dialysis patients. Data were extracted on RRT modalities, patient characteristics, comparators, clinical outcomes, safety profiles, and study context.</p> <p><strong>Results</strong>: High-volume hemofiltration (HVHF) showed no consistent mortality benefit over standard volume therapy. Early RRT initiation may reduce mortality in specific subgroups. Blood purification techniques like Polymyxin-B hemoperfusion (PMX-HP) and the oXiris filter showed mortality benefits, particularly in intermediate-to-high-risk patients, though with notable regional variance. Vasopressin use was consistently associated with reduced RRT requirements compared to catecholamines. Fluid choice significantly impacted renal outcomes, with hydroxyethyl starch (HES) solutions consistently increasing the risk of RRT compared to balanced crystalloids.</p> <p><strong>Conclusion</strong>: RRT strategies in septic shock should be individualized. For moderate AKI, early RRT may be beneficial. Vasopressin is recommended to reduce RRT dependency, and balanced crystalloids are preferred over HES for fluid resuscitation. Future research should focus on personalized medicine approaches and well-designed RCTs for emerging blood purification technologies</p>Maria Tifani Iriani Monika Hia WeruinPutu Herdita Sudiantara
Copyright (c) 2026 Maria Tifani Iriani Monika Hia Weruin, Putu Herdita Sudiantara
https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0
2026-06-302026-06-3044218419810.55497/majanestcricar.v44i2.492