Perbandingan Cystatin C Serum dan Kreatinin Serum untuk Deteksi Cedera Ginjal Akut pada Pasien Sepsis di Ruang Rawat Intensif Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan

Heru Kurniawan, Achsanuddin Hanafie, Chairul M Mursin

  • Journal Manager MACC
Keywords: Cedera ginjal akut, creatinin clearance 24 jam urin, cystatin C serum, kreatinin serum, sepsis

Abstract

paralel dengan perubahan kreatinin serum. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan kegunaan dari cystatin C serum dan kreatinin serum sebagai penanda biologis fungsi ginjal pada pasien sepsis di ruang rawat intensif (RRI). Sebuah studi cross-sectional dilakukan pada pasien dewasa usia 18–65 tahun di RRI RSUP Haji Adam Malik. Kreatinin serum, cystatin C serum dan creatinin clearance (CrCl) 24 jam urin diobservasi pada 24 pasien sepsis. CrCl 24 jam urin yang disesuaikan dengan luas permukaan tubuh digunakan sebagai “baku emas” untuk menentukan LFG. Kreatinin serum, cystatin C serum dan CrCl 24 jam urin (nilai rata-rata ± standar deviasi [range]) adalah 1,53 ± 1,13 mg/dL (0,3–4,2 mg/dl), 1,71 ± 1,1 mg/L (0,6–4,48 mg/L), dan 66,33 ± 37,77 ml/min/1,73 m2 (4–137 mL/min/1,73 m2). 17 dari total 24 pasien mengalami CGA. Cystatin C serum memilki nilai sensitivitas dan spesifisitas sebesar 82,4% dan 85,7%. Sedangkan kreatinin serum memiliki nilai sensitivitas dan spesifisitas sebesar 52,9% dan 85,7%. Cystatin C secara diagnostik lebih superior dibandingkan kreatinin serum dengan area under the curve (AUC) 0,874 untuk cystatin C serum dan 0,785 untuk kreatinin serum. Cystatin C serum dengan nilai cutt-off 1,03 mg/L dan kreatinin serum dengan cutt-off 1,0 mg/dL memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang sama yaitu 82,4% dan 85,7%. Cystatin C adalah penanda biologis yang akurat dalam mendeteksi perubahan akut pada LFG, dan terbukti lebih superior dibandingkan kreatinin serum dalam mendiagnosa CGA pada pasien sakit kritis.

Published
2020-02-28
Section
Articles